Jumat, 24 Mei 2013

LEGENDA PUTRI PUKES

Legenda Puteri Pukes Pemandangan di seputar danau sangat eksotik dan menarik. Banyak cerita legenda yang mengelilingi keindahan danau ini, seperti legenda beberapa goa. Yang cukup terkenal adalah Legenda Goa Puteri Pukes. Cerita kehadiran goa yang berada di pinggir danau ini cukup menggelitik. Konon, saat tuah orang tua masih menjadi kenyataan, hiduplah seorang puteri bernama Pukes. Puteri Pukes kemudian dipinang oleh seorang pangeran dari seberang Danau Laut Tawar. Sesuai adat, jika seorang perempuan sudah dipinang dan diperistri, maka ia harus ikut dan tinggal dalam lingkungan keluarga besar suaminya. Setelah dipinang, Puteri Pukes pun harus meninggalkan kedua orangtua, saudara dan kampung halamannya menuju kampung halaman sang suami. Sebelum sang puteri berangkat, terlebih dahulu ia diberi petuah oleh orangtuanya. Satu pesan yang harus ia ingat dan patuhi adalah, agar sang anak tidak menoleh ke belakang melihat orangtua, saudara ataupun kampung halamannya. Ia harus meneguhkan keyakinan untuk ikut bersama keluarga sang suami. Meski sedih dengan pesan tersebut, namun sang puteri tetap harus mematuhinya. Saat perjalanan melintas danau menuju negeri sang suami, tiba-tiba sang puteri merasakan rindu yang tak terperi kepada orangtua dan kampung halamannya. Tanpa disengaja, ia pun menoleh ke belakang untuk sekadar melihat. Tuah orang tua pun terjadi. Dalam sekejap, cuaca yang cerah berubah menjadi gelap, dan petir di angkasa sambung menyambung. Badai pun datang. Tiba-tiba, sang puteri berubah wujud menjadi batu. Kini, di dalam Goa Puteri Pukes yang berada di pinggir jalan, tepat di depan danau, terdapat patung seorang puteri. Konon, sesekali patung tersebut mengeluarkan air mata penyesalan akibat tak mendengar petuah orangtuanya. Objek wisata ini cukup ramai dikunjungi masyarakat sekitar maupun pendatang, terutama di hari libur.

TEMPAT WISATA YANG TER-SELIP

Dataran Tinggi Gayo. Kabupaten Aceh Tengah (Takengon) Nanggroe Aceh Darussalam adalah TEMPAT WISATA YANG TER-SELIP. Agak terdegar aneh memang kalau membaca judul artikel ini. Tapi,, tunggu jangan berfikiran negatif dulu jadi gini nih di kota takengon (Aceh Tengah) yang kotanya ber udara sejuk, juga memiliki danau tawar yang indah nan eksotis. Danau ini adalah kebanggaan masyarakat takengon (Aceh Tengah). Oh... iya.. di kalimat atas ada tulisan dataran tinggi gayo, pasti sobat bertanya gayo itu apa...? jadi begini 90% di takengon masyarakatnya bersuku gayo yang 10% nya bersuku aceh, padang, jawa dan china. Suku Gayo masih dalam ruang lingkup aceh namun perlu sobat ketahui bahwa di aceh memiliki beberapa suku di antaranya gayo, aceh dan melayu. Danau Takengon yang sejuk ini terletak di sebelah timur Kota Takengon, di dataran tinggi Gayo (1.250 meter di atas permukaan laut) Kecamatan Lut Tawar. Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Danau laut tawar ini adalah danau yang terluas di Propinsi Aceh dengan luas sekitar 5.472 Ha, panjang sekitar 17 km dan lebar 5,5 km. Sesuai judul danau takengon yang mulai muncul karena danau yang tercinta ini, dulu masih banyak yang belum tau keberadaan nya selain masyarakat takengon. Ini mungkin dulu belum di perkenalkan kepada masyarakat indonesia bahwa danau yang sangat-sangat indah salah satunya berada di kota takengon (Aceh Tengah). Seiring perkembangan jaman, apa lagi di jaman tekhnologi ini kita berkesempatan memperkenalkan wisata daerah terbaik kita masing-masing kepada nasional maupun internasional, danau takengon sudah mulai banyak di kenal orang, baik dari wisatawan dalam negri maupun luar negri. Mungkin sobat juga pernah melihat danau ini di televisi. Karena kalau tidak salah sih sudah 4 kali masuk dalam daftar program televisi seperti... ‘’catatan si bolang, si unyil, koper dan ransel, etnik runaway’’ dan sekarang sedang berlangsung penggarapan flm layar lebar lho sobat, berjudul JSP (Janji Sang Pemberani) yang mengambil keindahan alamnya. Kita tunggu aja deh di bioskop-bioskop kesayangan anda heehe,,,, Ayo sobat datang ke danau tawar takengon, karna penginapan juga terhitung banyak ada hotel yang di pinggir danau saya tidak kasi tau namanya apa nanti ada unsur ngiklan lagi, satu hal jika datang ke takengon (Aceh Tengah) sobat sebaiknya membawa jaket yang tebal soalnya seperti apa yang saya bilang kalau di takengon udaranya sejuk nian ‘’apa lagi pas musim hujan haduuuhh,,,,, (sejuk pedeh) artinya dingin sekali’’ jika sobat menuju ke kota takengon (Aceh Tengah) sobat bisa naik bus atau minibus dari arah medan sumatera utara atau pun bisa juga dari arah banda aceh, jika perjalanan dari sumatera utara menuju takengon berkisar 8 atau 9 jam tergantung kelincahan pak sopirnya mengandarai bus atau mini bus hehe,,, nah jika berangkat dari Banda Aceh atau pusatnya Aceh. Hanya ada mini bus l300 waktu yang di tempuh lebih cepat dari pada medan (Sumatera Utara) bekisar 5 atau 6 jam sampai kota takengon. Perlu di ketahui sobat. Di sekeiling danau takengon aceh tengah juga banyak legenda-legenda jaman dahulu seperti ‘’ loyang koro, putri pukes, puteri ijo’’ Baiklah saya akan mencoba menjelaskan legenda-legenda ini dengan sepengetahuan saya saja ya sobat mulai dari : loyang koro (goa kerbau) loyang koro adalah gua kerbau tp bukan berarti saya kerbau sobat, hahaaa,,,, itu nama goa nya, yang mana gua itu menembus daerah desa isaq masih di daerah aceh tengah tapi ber kilo-kilo meter panjang ntu gua sobat, di dalamnya kaga ada listrik, penginapan ama warung makan, klw sobat mau nembus gua itu bawa bekal sebanyak-banyaknya untuk beberapa hari dalam perjalanan,, haahaa maaf Cuma becanda kok sobat, gua itu sekarang sudah tertutup oleh stalakmit atau stalaktif ya,,, ga tau juga saya namanya sekarang gua itu panjang nya hanya beberapa meter saja. Putri pukes Kalaw ini dulunya cerita tentang pengantin baru yang menjadi batu, lupa juga saya ceritanya ntar sobat aja yang cari tau sendiri agar lebih abdol,, Putri ijo (putri hijau) Nah kalau ini dulunya cerita tentang 2 orang sedarah menikah dan awalnya si wanita ini tidak tau bahwa lelaki yang menikahi dia kakak kandungnya, lalu si wanita ini malu ketika tau suaminya adalah kakak kandungya. Dan wanita itu mengubur dirinya sendiri di pinggir danau tawar, dan konon menjadi ular hijau yg di sebut ‘’puteri ijo’’ yang besar ya seperti naga lah gitu,, ya konon si ceritanya begitu. Bukan itu aja sobat masih ada wisata lainya ada puncak ‘’pantan terong’’. Dari puncak tersebut kita bisa melihat kota takengon dan hamparan luas danau tawar dan dari ketinggian entah berapa meter lupa saya ukur ntar deh hehee,,,,, dari sisi hiburan masyarakat gayo aceh tengah setiap tahunya pada bulan agustus mengadakan seni budaya ‘’pacuan kuda’’. Pacuan kuda ini berbeda dari pacuan kuda lainya karna yang menunggangi kuda ini anak berumur rata-rata 9-11 tahun dan tanpa memakai helm / pengaman dan hanya memegang tali yang di ikat ke kepala kuda, atau orang gayo menyebutnya (KEKANG). Pakaian penunggang kuda atau disebut ‘’joki’’. Ada yang memakai baju warna merah, kuning, hijau dan putih (ilang , ijo, kuning, poteh). Pokok nya seru deh sobat. Selain itu dari segi kuliner juga ada sobat, Yaitu ikan kecil khas danau tawar Orang Gayo menyebutnya (Depik Gayo). Dan mengingat sebagian besar masyarakat takengon adalah petani kopi tak lupa pula rasa kopi gayo yang aromanya ''beughh..... manthaaff'' kopi gayo ini termasuk kualitas terbaik di dunia kopi ini juga sering di exspor ke luar negri lho... karena kopi ini tumbuh dengan pupuk alami tanpa pupuk kimia, sehingga aroma kopi lebih terasa. adapun jenis kopi yang ada di takengon adalah kopi arabika dan robusta. Ada juga kopi luwak kopi yang berasal dari pembuangan hasil permentasi di perut luwak atau (Musang). Harga kopi luwak ini cukup mahal si bekisar Rp. 800.000 sampai Rp. 1000.000 per kilo gram yang sudah berbentuk bubuk. Oke sobat..... demikian sedikit informasi tentang wisata Danau Tawar takengon ( Aceh Tengah), kami menunggu sobat di takengon untuk berwisata. (Ike Gere Seni Selohmi we Kite Munentong Keindahen Takingen) artinya : ‘’ kalau tidak sekarang kapan lagi kita mengunjungi keindahan takengon’’.

Takengon, The Misty City

Alkisah pada zaman dahulu kala, para tetua adat di Negeri Linge didaerah dataran tinggi Gayo sepakat untuk mencari daerah baru yang akan dijadikan lokasi pemukiman baru bagi anak cucu mereka yang sudah berkembang. Setelah mendaki dan menurungi pegunungan berkabut, mereka menemukan sebuah dataran yang luas yang dikelilingi pegunungan. Berita penemuan lokasi baru itu disampaikan ke majelis adat Linge, dan sang tetua berkata “Takah di Tengon”, atau Dilihat dahulu, apakah lokasi itu baik untuk dijadikan permukiman baru. Dan setelah dilakukan “Takah di Tengon”, para Tetua suku Gayo Linge sepakat untuk membuka hunian baru di pinggiran danau tersebut. Dan Desa “Takah di Tengon” ini kemudian berkembang dan dikenal dengan nama kota Takengon. Saat ini Takengon merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan kampung halaman bagi masyarakat Gayo. Kota ini juga disebut dengan kota diatas awan karena sering ditutupi kabut tebal dan untuk mengunjungi kota ini, kita harus melewati jejeran pegunungan di dataran tinggi Gayo. Disamping selalu diselimuti kabut karena lokasinya yang berada di ketinggian 1.200 mdpl, kota ini juga masih menyimpan sejuta legenda disetiap sudut kotanya dan masih merupakan misteri sampai saat ini. Percaya atau tidak, masyarakat Gayo sangat mempercayai hikayat dan legenda-legenda tersebut dan menghormatinya. Danau Laut tawar yang mistis dan penuh misteri, legenda Putri Hijau, Legenda Putri Pukes, asa muasal Danau Gayo yang terbentuk karena perkelahian antara manusia dengan raksasa, dan sebagainya adalah peninggalan kisah-kisah era Aninisme yang maih terjaga sampai saat ini. Terlepas dari benar atau tidaknya kisah dan misteri tersebut, kearifan local masyarakat Gayo telah membuat banyak pendatang baik luar datang mengais rejeki di kota ini. Dan Takengon bisa dikatakan sebagai kota teramah di seantero Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sehingga tak heran Takengon menjadi ikon pariwisata Aceh. Berbeda dengan sebagian besar kota-kota di Aceh yang lebih ramai di malam hari, aktifitas di Takengon lebih banyak dilakukan di siang hari, sedangkan di malam hari nyaris sepi karena memang udara malam yang sangat dingin dan penduduk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Disamping dikenal sebagai penghasil Kopi Gayo yang nyaris diambil patennya oleh Amerika, Takengon juga memilii hasil alam yang khas dan unik, seperti Nenas takengon yang rasanya sangat manis seperti madu, ikan Depik khas danau laut tawar, Takengon juga terkenal akan kuda yang menjadi tradisi masyarakat lokal dan menjadi simbol status sosial masyarakatnya. Setiap tahun diadakan lomba pacuan kuda yang dihadiri oleh masyarakat Gayo yang tersebar di beberapa kabupaten di dataran tinggi Gayo, Aceh. Akan tetapi konflikhorizontal dan masalah keamanan telah menenggelamkan kota ini kembali kedalam kabut dan misterinya. Takengon hamper jarang disebut-sebut dalam peta pariwisata Indonesia. Bahkan tak banyak yang tahu bahwa kota ini menyimpan sejuta pesona keindahan, kuliner, keunikan, budaya dan keramah tamahan khas Gayo yang begitu menawan. Ketika keamanan dan konflik bersaudara di Aceh telah reda, Takengon mencoba bangun dari tidurnya, dan geliat pembangunan telah membuat Takengon semakin cantik ditengah kabut yang selalu setia menemaninya. Senyum para bujang dan gadis Gayo yang terkenal akan pesonanya, siap menyambut para penikmat alam dan keaslian budaya lokal yang luhur. Selamat datang di Takengon, The Misty City (Bot Sosani, 17 November 2011)

KISAH TANAH GAYO DAN DANAU LUT TAWARNYA

Di tanah Gayo yang bertuah terhampar Laut Tawar dikitari gunung Taris, Birah Panyang, Kelieten dan Kelitu yang membujur sampai ke Singah mata. Beberapa sungai mengalir dari beberapa arah menuju Laut Tawar yang bermuara ke sungai Pesangan menuju Samudera Hindia. Orang Gayo cukup menyebutnya dengan “Lôt Tawar” dan bukan Danau Laut Tawar. Di sini -di Laut Tawar- sebagian orang Gayo menyandarkan hidup dari hasil ikan Depik yang uniq itu. Sampai tahun 70-an, ikan Depik bisa dihasilkan berkunca-kunca, sehingga mamu menyara yang bisa nyekolah anak-anak. Di pinggiran Lot Tawar terdapat pinus yang merentang hijau, yang suatu ketika dulu getahnya di-export. Ada Kopi dan Tembakau yang mutunya mampu menyaingi kopi Berazil di pasaran dunia Internasional. Gambaran tentang keindahan, kekayaan, kebanggaan, harapan dan masa depan orang Gayo, bisa disimak dari lirik Didong berikut. //Engonko so tanoh Gayo/ Si megah mureta delé /urom batang ni Uyem si ijo/Kopi bakoe/ Enti datenko Burni Kelieten mongot pudederu/ /Oyale rahmat ni Tuhen kin ko bèwènmu// (Tataplah tanah Gayo/ yang megah kaya-raya/ dengan pohon Pinus yang hijau/ Kopi dan Tembakaunya/ jangan biarkan Gunung Klieten menangis tersedu/ Inilah rahmat Tuhan kepada kalian semua// (“Sedenge”. Mariam Kobat). Laut Tawar memang menyimpan sejuta riwayat, seperti: hikayat Malim Dewa (kisah percintaan Malim Dewa dengan Peteri Bensu yang sangat romantis dengan tidak merobek nilai-nilai adat dan agama); Inen/Aman Mayak Pukes (kisah pengantin baru yang tidak patuh kepada nasihat orangtua, dengan kultur Gayo klasik, dimana pasangan suami/Isteri, masih malu bergandeng tangan). Lihat saja posisi antara Inen dan Aman Mayak Pukes (penganting perempuan dan lelaki) yang jaraknya diperkirakan 200 meter dan Peteri Ijo (hikayat gadis cantik jelita berabut panjang, yang sarat dengn kekuatan misteri). Di sini- di Laut Tawar- kaula muda merajut percintaan yang romantis. Muse (penyair Gayo) bercerita: //Kirep cèngkèh ni bulang/ kipes ni opoh Padang/ terbayang ko laut ijo rembebe tajuk ni bunge/ ku sèmpol bun kin tene/ mudemu i ôjông Baro// (Panggilan dengan topi miring/ lambaian kain panjang/ terbayang kau Laut hijau/ kuntun bunga bertaburan/ berjumpa di ôjông Baro/ diselip di sanggul sebagai isarat.) Kasih-sayang yang mereka rènda sepanjang jalan kenangan ini tak rela membiarkan terbang ke angkasa lepas. Tak kuasa untuk berpisah, sedetik sekalipun. Miga (penyair muda Gayo) berdèndang: //Tapè ikot ari Pedemun (Bingkisan dari Pedemun) /Ku Balé Atu malè kukirimen (kukirim ke Balé Atu)/ Mokottu lime tun (lima tahun terlalu lama)/ Nantin aku di Terminal Takengon (tunggu aku di Terminal takèngon, sayang). Di sini -di Laut Tawar- orang menjalin rasa persadaraan yang kental. Biar susah sungguh, sampan tetap kukayuh meredah Laut Tawar menuju Bebuli. Disana sanak saudaraku sudah letih menanti. Demi persaudaraan, enggan menghitung langkah dan ayunan dayung Keakraban persaudaraan ini, bisa disimak dari lirik: //Langkah ku mamang ku Ujung Bebuli (Langkahku terburu-buru ke Ujung Bebuli)/ Jarak sipi-sipi telas Kampung Rawè (Nampak samar-samar Kampung Rawè)/ Muah ke Rembèlè, kati singah kami (Berbuahkah Rembèlè agar mampir kami// (Rembele, sejenis kayu yang buahnya berisi lendir dengan rasa manis) (Ramlah, penyair Gayo) Di sebalik kisah itu, ada sejuta kegundahan yang satu saat akan melilit dan mencekik kebanggaan terhadap Laut Tawar. Sebab dalam realitasnya, hutan Gayo sudah dikuasai oleh orang asing. Utente negemèh bertene dan belangte nge mèh berpancang (Hutan dan padang ilalang kita sudah habis dipancang – Linge group.) Hak Paten Kopi Gayo pun di tangan Belanda. Kawasan hutan di hulu sungai utama, seperti: Kenawat, Toweran, Rawè, Nosar, Bèwang, Mengaya, Bintang dan Totor Uyet menuju Kala Kebayakan- yang bermuara air ke Laut Tawar kini sudah gundul. Konsekuensinya permukaan air Laut Tawar semakin dangkal. Hal ini tidak saja berpengaruh kepada kerusakan alam lingkungan, tetapi juga keengganan Ikan Depik masuk Di disen. Kini, ikan Depik lebih suka bertandang ke tengah laut ketimbang melewati Penyangkulen (post-post laluan Ikan Depik). Para nelayan pun mengejar dan memberkasnya dengan doran (pukat tradisional Gayo). Kabri Wali (penyair muda Gayo) mengisahkan: //Nge taring peberguk parukni penyangkulen/ Gere lagu jemen Didisen batu berbata// Pinus yang terhampar luas dan megah, kini hampir semua musnah. Ibnu Hajar (penyair Gayo) melukiskan //Ari Lampahan sawah ku Gelampang (dari Lampahan hingga Gelampang)/ Nge mèh lapang taring kemumu (Sudah gundul tinggal rerumputan)/ Pabrik Lampahan gere nèh mugune (Pabrik lampahan tidak lagi berfungsi) Mujadi besi tue kengon tubuhmu (sudah jadi besi tua)/ Gere megah lagu sedenge (tidak terkenal seperti dahulu)// Lupakan seketika kisah itu. Yang pasti, wajah Laut Tawar setara indah dan cantiknya dengan Geneva Lake Swissland, yang dilingkari oleh gunung Alps dan Jura, bermuara ke sungai Rhône yang mengalir gemuruh dan bening. Selain Rhône, ada Pea -sungai kecil- yang diapit oleh pohon rindang (mirip kayu bakau) yang terurus. Air Geneva Lake yang jernih bersumber dari mata air simpanan salju gunung Alps dan Jura. Kecantikan dan keindahan Geneva Lake tetap bertahan, karena pemerintah setempat merupakan Wali yang bertanggungjawab melindungi dan menjaga martabat Geneva sebagai kota turist berskala internasional. Sepanjang sungai Rhône membujur taman bunga beraneka warna yang diperindah dengan cahaya lampu penghias di waktu malam, semakin mempesona para wisata. Siapapun yang pernah berjalan sepanjang Rhone, akan berhayal; “Seandainya pantai Laut Tawar dari arah Mendalé hingga Bôm dan dari arah Dedalu menuju sungai Pesangan ditata dengan seni arsitektur yang berciri Gayo secara profesional -artinya, tidak ada lagi gubuk nelayan, yang mirip gubuk suku Dayak terasing Kalimantan Timur itu- dan menukarnya dengan taman bunga.” Mungkin khayalan tadi akan menjelma dan Peteri Bensu bersaudara turun dari singgasana menyambut Malim Dewa (baca: wisatawan) seraya menyapa: “Inilah daku, Gayo!” Tidak guna lagi meratapi Laut Tawar dalam syair, sementara tangan kita mengotorinya; memuja dalam sastera, sementara mendera di alam nyata. Jangan biarkan keindahan Laut Tawar terbengkalai. Sisir rambut Pantai Menye (manja) agar tak kusut, mandikan dengan aroma bunga Renggali agar kaki turist tidak tersentuh tahi. Jangan biarkan Inen Mayak Pukes kesepian dan kesejukan dalam kawah gelap gulita. Berilah dia cahaya kehidupan! Pemda Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah Wali yang bertanggungjawab melindungi dan menjaga martabat Laut Tawar dan Takengon sebagai kota turist bertarap internasonal. Ironis memang. Terlepas dari ada orang yang mencemari, mengotori dan mengacuhkannya. Tokh Laut Tawar masih tetap berdiri tegar, masih ramah menyapa, membagi sejuk, menawarkan senyum, pasrah dan ikhlas memberi apa saja yang dimilikinya. Sesekali ia bangkit bersaksi -protes- lewat Belambidé-nya, yang justeru menelan korban, sosok yang tidak pernah menyusahkan dan menyakitinya

Kamis, 23 Mei 2013

SUKU GAYO LUES

Suku Gayo Lues tari Saman kesenian suku Gayo Lues Suku Gayo Lues, adalah sub-suku Gayo yang berdiam di kabupaten Gayo Lues dan beberapa kecamatan di Aceh Tenggara, juga sebagian kecil terdapat di Aceh Selatan provinsi Aceh. Pemukiman suku Gayo Lues ini yang berada di kabupaten Gayo Lues, berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan, sebagian besar wilayahnya merupakan area Taman Nasional Gunung Leuser yang terisolasi di provinsi Aceh. Kebudayaan dan adat-istiadat sub-suku Gayo Lues, hampir tidak ada perbedaan dengan sub-suku Gayo lainnya, seperti Gayo Serbejadi (Lukup), Gayo Kalul, Gayo Lut dan Gayo Deret. Hanya saja dibedakan dari dialek yang digunakan, mereka memiliki dialek yang berbeda dengan sub-bahasa Gayo lainnya. Walaupun memiliki dialek yang berbeda dengan kelompok Gayo lainnya, tapi mereka bukanlah suku yang berbeda dengan suku Gayo lainnya, mereka tetaplah suku Gayo. Mungkin karena wilayah mereka yang berbeda dan terpisah dengan etnis Gayo lainnya, serta dialek yang mereka ucapkan sedikit berbeda, oleh karena itu mereka disebut sebagai Gayo Lues. Masyarakat suku Gayo Lues, mayoritas memeluk agama Islam, yang pada masa dahulu dibawa oleh orang Aceh dan orang Minangkabau yang keturunannnya juga banyak bermukim di wilayah ini. Mereka adalah penganut Islam yang taat, sehingga beberapa kebudayaan mereka banyak mengandung unsur Islami. Suku Gayo Lues walaupun hidup di pegunungan yang termasuk daerah terisolasi, tetapi mereka menerima kehadiran pendatang dengan tangan terbuka. Mereka memiliki sikap yang ramah terhadap siapapun, sehingga wilayah Gayo Lues saat ini telah banyak dimasuki pendatang dari berbagai wilayah dari daerah Sumatra, dan dapat hidup berdampingan secara damai. Kehidupan masyarakat suku Gayo Lues, pada umumnya hidup pada bidang pertanian, seperti bercocok tanam sayur-sayuran, cabe merah, serai wangi, kakao, tembakau dan kopi arabica.

SUKU GAYO KALUL

Suku Gayo Kalul Suku Gayo Kalul, adalah sub-suku Gayo yang berdiam di kabupaten Aceh Tamiang provinsi Aceh. Secara adat dan budaya, suku Gayo Kalul ini tidaklah berbeda dengan puak Gayo yang lainnya, dikarenakan wilayah pemukiman mereka yang berada terpisah dari puak Gayo lainnya, sehingga mereka disebut sebagai Gayo Kalul. tari Bines kesenian suku Gayo Kalul Kebudayaan dan adat-istiadat sub-suku Gayo Kalul, hampir tidak ada perbedaan dengan sub-suku Gayo lainnya, seperti Gayo Serbejadi (Lukup), Gayo Deret, Gayo Lut dan Gayo Lues. Hanya saja dibedakan dari dialek yang digunakan, mereka memiliki dialek yang berbeda dengan sub-bahasa Gayo lainnya. Beberapa kata dari bahasa Gayo Kalul memiliki beberapa perbedaan, tapi masih dapat dipahami oleh puak Gayo lainnya, misalnya dalam penyebutan orang, kalau dalam bahasa Gayo pada umumnya menyebut kata "orang" adalah "jema", sedangkan dalam bahasa Gayo Kalul menjadi "urang". Walaupun terdapat beberapa perbedaan dalam perbendaharaan kata dalam bahasa Gayo Kalul, tetapi mereka masih dapat saling berkomunikasi dengan puak Gayo lainnya. Masyarakat Gayo Kalul, pada umumnya hidup sebagai petani di ladang dan kebun yang berada di sekitar wilayah pemukiman mereka. Saat ini banyak dari mereka yang telah bekerja di sektor swasta dan pemerintahan. Tidak sedikit dari mereka yang mulai merantau ke wilayah lain, seperti ke Banda Aceh, Medan hingga sampai ke pulau Jawa.

SUKU GAYO DERET

Suku Gayo Deret Suku Gayo Deret, disebut juga sebagai Gayo Linge, adalah sub-suku Gayo yang berdiam di daerah Linge dan sekitarnya (masih merupakan bagian wilayah kabupaten Aceh Tengah di provinsi Aceh. tari Saman suku Gayo Deret Kebudayaan dan adat-istiadat sub-suku Gayo Deret, hampir tidak ada perbedaan dengan sub-suku Gayo lainnya, seperti Gayo Serbejadi (Lukup), Gayo Kalul, Gayo Lut dan Gayo Lues. Hanya saja dibedakan dari dialek yang digunakan, mereka memiliki dialek yang berbeda dengan sub-bahasa Gayo lainnya. Di wilayah Gayo Deret inilah dahulunya pernah berdiri sebuah kerajaan besar sekitar abad X, yang bernama Kerajaan Linge (Kerajaan Lingga). Kerajaan Lingga ini adalah kerajaan yang didirikan oleh orang-orang Gayo pada masa lalu, yang raja pertamanya bernama Genali. Konon, orang Gayo lah pemeluk Islam lebih dahulu daripada orang Aceh yang menjadi mayoritas di provinsi Aceh ini. koin peninggalan Kerajaan Linge Orang Gayo Deret, dilihat dari adat-istiadat dan budaya, tidak jauh berbeda dengan adat-istiadat dan budaya dari puak Gayo yang lain. Hanya terdapat perbedaan istilah saja dalam penyebutan beberapa istilah budaya dan adat-istiadat mereka. Menurut mereka orang Gayo Deret dengan puak Gayo lainnya, adalah sama, hanya karena terpisah oleh wilayah yang berbeda saja, maka mereka disebut sebagai Gayo Deret. Sedangkan istilah Deret sendiri, tidak diketahui berasal dari mana. Tetapi beberapa orang tua dari masyarakat Gayo Deret mengatakan bahwa Deret, adalah nama seseorang yang dahulunya diberi tugas oleh sang Raja mereka untuk memelihara seluruh jenis binatang yang berada di wilayah adat mereka ini. Kehidupan masyarakat Gayo Deret juga semakin maju dari tahun ke tahun, mereka semakin menunjukkan eksistensi sebagai orang Gayo, walau berada di tengah-tengah budaya mayoritas suku Aceh di provinsi Aceh ini. Dahulu mereka dalam berkomunikasi dengan masyarakat lain di luar komunitas mereka, biasanya mengaku sebagai orang Aceh, karena kuatir kalau menyebut kata "dari gayo", karena orang tidak tahu apa itu "orang gayo". Tetapi saat ini, mereka lebih berani untuk menyebut diri sebagai orang Gayo, dan bukan Aceh lagi. Karena secara budaya dan adat-istiadat, mereka berbeda dengan budaya dan adat-istiadat Aceh. Dilihat dari ciri fisik dan bahasa, orang Gayo berbeda dengan orang Aceh. Bahasa Gayo justru lebih berkerabat dengan bahasa Batak, terutama dengan bahasa Batak Karo dan Batak Pakpak. Masyarakat Gayo Deret, awalnya hidup pada bidang pertanian, perladangan serta bercocok tanam berbagai jenis sayur-sayuran dan buah-buahan. Saat ini mereka lebih mencoba pada tanaman keras seperti kopi, kakao dan lain-lain.

SUKU GAYO LUT

Suku Gayo Lut Suku Gayo Lut, adalah sub-suku Gayo yang berdiam di sekitar danau Laut Tawar. kabupaten Aceh Tengah provinsi Aceh. danau Laut Tawar daerah pemukiman suku Gayo Lut Suku Gayo Lut, disebut sebagai Gayo Lut, karena wilayah kediaman mereka yang berada di sekitar danau Laut Tawar yang dalam bahasa Gayo disebut danau Lut Tawar. Selain disebut Gayo Lut, kadang mereka disebut juga sebagai Gayo Laut. Pemukiman suku Gayo Lut, dahulunya terdiri dari rumah-rumah panggung yang panjangnya bisa mencapai 20 hingga 30 meter, dan lebarnya bisa mencapai 10 meter. Dengan bagian bawah, tempat menyimpan binatang ternak seperti sapi dan kambing. Saat ini telah banyak berubah, dan bentuk rumah dibangun sejajar dengan tanah. Untuk kebudayaan dan adat-istiadat, tidak ada perbedaan dengan sub-suku Gayo lainnya, seperti Gayo Serbejadi (Lukup), Gayo Deret, Gayo Kalul dan Gayo Lues. Hanya saja dibedakan dari dialek yang digunakan, mereka memiliki dialek yang berbeda dengan sub-bahasa Gayo lainnya. Masyarakat suku Gayo Lut, mayoritas pemeluk agama Islam. Agama Islam telah lama berkembang di wilayah ini, konon menurut cerita mereka, agama Islam lebih dahulu masuk ke masyarakat Gayo dari pada ke suku Aceh. suku Gayo Lut Pada umumnya kehidupan masyarakat Gayo Lut, adalah berprofesi sebagai petani, seperti menanam padi di sawah, berladang, bercocok tanam berbagai jenis sayur-sayuran. Mereka juga menanam tanaman keras seperti kopi arabica, yang saat ini semakin berkembang dan terkenal, seperti kopi Gayo. Selain itu beberapa dari mereka hidup sebagai nelayan penangkap ikan di danau Laut Tawar. Saat ini, tidak sedikit dari masyarakat Gayo Lut yang telah berhasil di perantauan, menjadi pengusaha ataupun pejabat pemerintahan

KUDSUKU GAYO



https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjl1Oo5SCX6xOmCkZGCHCZtVf0HGjpmSkwpvcxGHBKxxUGt2euj6XT0t7r0DJNkZA3b1TBl1O1fGZEWHTcMn_c45yOxuunOZ1MqpbkhehqKi6d6suIJMPaMGvpyaDnq_Cdi8ImP3RpzwKdv/s320/uranggayo-berkerawang.jpg
Suku Gayo adalah sebuah suku bangsa yang mendiami dataran tinggi Gayo di Aceh. Suku Gayo secara mayoritas terdapat di kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues dan 3 kecamatan di Aceh Timur, yaitu kecamatan Serbe Jadi, Peunaron dan Simpang Jernih. Selain itu suku Gayo juga mendiami beberapa desa di kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara. Suku Gayo mayoritas beragama Islam. Suku Gayo menggunakan bahasa sehari-hari yang disebut bahasa Gayo.
Suku Gayo berbeda dengan suku Aceh. Secara fisik, bahasa dan budaya suku Gayo lebih mirip dengan suku Alas, Singkil, Kluet, Batak Karo dan Batak Pakpak.

Sekitar abad 11 Masehi di tanoh Gayo terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Linge (Lingga) yang didirikan oleh orang-orang Gayo pada era pemerintahan Sultan Machudum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kerajaan Perlak. (dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Ranta yaitu Raja Cik Bebesan dan dari Zainuddin yaitu dari raja-raja Kejurun Bukit yang pernah berkuasa sebagai raja di era kolonial Belanda).
Raja Lingga I, disebutkan mempunyai 4 orang anak. Yang tertua seorang wanita bernama Empu Beru atau Datu Beru, yang lain Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Djohan Syah) dan Meurah Lingga(Malamsyah).
Sebayak Lingga kemudian merantau ke tanah Karo dan membuka negeri di sana dia dikenal dengan Raja Lingga Sibayak. Meurah Johan mengembara ke Aceh Besar dan mendirikan kerajaannya yang bernama Lamkrak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamoeri dan Lamuri atau Kesultanan Lamuri atau Lambri. Ini berarti kesultanan Lamuri di atas didirikan oleh Meurah Johan sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun termurun. Meurah Silu bermigrasi ke daerah Pasai dan menjadi pegawai Kesultanan Daya di Pasai. Kesultanan Daya merupakan kesultanan syiah yang dipimpin orang-orang Persia dan Arab.
Meurah Mege sendiri dikuburkan di Wihni Rayang di Lereng Keramil Paluh di daerah Linge, Aceh Tengah. Sampai sekarang masih terpelihara dan dihormati oleh penduduk.
Penyebab migrasi tidak diketahui. Akan tetapi menurut riwayat dikisahkan bahwa Raja Lingga lebih menyayangi bungsunya Meurah Mege. Sehingga membuat anak-anaknya yang lain lebih memilih untuk mengembara.

Masyarakat Gayo hidup dalam komunitas kecil yang disebut kampong. Setiap kampong dikepalai oleh seorang gecik. Kumpulan beberapa kampung disebut kemukiman, yang dipimpin oleh mukim. Sistem pemerintahan tradisional berupa unsur kepemimpinan yang disebut sarak opat, terdiri dari:

- Reje
- Petue
- Imem
- Rayat
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg3YjeDvnaD2wxcnw7ptkR0PIsivy3k84DWoQqVHBFcrXSuCxWBN30Hd-7xxS25fSAaJaMtZrZPSwcZfmDlmHqRCtzfh1TBhKFPxYa18LSwa8VMcSb3xHARO0X5nHMVt4zGKXsQaz_OHU5y/s400/Rumah+Adat+Gayo+-+Umah+Pitu+Ruang+Gayo.jpg
rumah adat suku Gayo
Saat ini beberapa buah kemukiman merupakan bagian dari kecamatan, dengan unsur-unsur kepemimpinan terdiri atas: gecik, wakil gecik, imem, dan cerdik pandai yang mewakili rakyat.
Sebuah kampong biasanya dihuni oleh beberapa kelompok klen (belah). Anggota-anggota suatu belah merasa berasal dari satu nenek moyang, masih saling mengenal, dan mengembangkan hubungan tetap dalam berbagai upacara adat. Garis keturunan ditarik berdasarkan prinsip patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi adalah eksogami belah, dengan adat menetap sesudah nikah yang patrilokal (juelen) atau matrilokal (angkap).
Kelompok kekerabatan terkecil disebut saraine (keluarga inti). Kesatuan beberapa keluarga inti disebut sara dapur. Pada masa lalu beberapa sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah panjang, sehingga disebut sara umah. Beberapa buah rumah panjang bergabung ke dalam satu belah (klen). Pada masa sekarang banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiKmB_NY8K3GcGi0kYd5C5RKdNwemlHXscJU3RwtOOyOOi_iWx6gVes4wsu4vPNvG_dXo1eJW2pYIp-brT8nb-ifyM24er1ClGjP3uGfnWEDN6bsa-ZJwK-RNSjpueyW_vpE83j1_d3u_x_/s200/kuburan+orang+Gayo.jpg
kuburan suku Gayo masa lalu
Suatu unsur budaya yang tidak pernah lesu di kalangan masyarakat Gayo adalah kesenian, yang hampir tidak pernah mengalami kemandekan bahkan cenderung berkembang. Bentuk kesenian Gayo yang terkenal, antara lain tari saman dan seni bertutur yang disebut didong. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat. Di samping itu ada pula bentuk kesenian Seperti: Tari bines, Tari Guel, Tari munalu,sebuku(pepongoten), guru didong, dan melengkan (seni berpidato berdasarkan adat), yang juga tidak terlupakan dari masa ke masa.

Masyarakat Gayo juga memiliki berbagai jenis makanan khas suku Gayo yaitu :
- Masam Jaeng
- Gutel
- Lepat
- Pulut Bekuah
- Cecah
- Pengat

Suku Gayo tidak lah kalah dengan suku-suku lain di Indonesia, karena orang Gayo kaya akan seni budaya.


diolah dari berbagai sumber