CINTA TANAH GAYO
Jumat, 02 Agustus 2013
Minggu, 28 Juli 2013
GEMPA DI GAYO
SEJAK terjadi bencana gempa yang melanda tanoh Gayo kemarin, Gerindra Bener Meriah dengan mobil ambulansnya telah aktif terjun ke lokasi-lokasi bencana untuk membantu korban.
Pertolongan pertama yang dilakukan oleh kader Gerindra bersama masyarakat lainnya merupakan wujud solidaritas, yang dengan adanya fasilitas seperti mobil ambulan sedikit banyaknya telah membantu beban masyarakat yang menimpa bencana.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Gerindra Bener Meriah, Marianto, kepada ATJEHPOSTcom mengatakan pihaknya sangat bersyukur telah bisa berpartisipasi secara menyeluruh menolong masyarakat Gayo yang menjadi korban bencana gempa.
“Kami sebagai kader Gerindra Bener Meriah merasa bahagia dan bersyukur telah menjadi bagian terdepan dalam pertolongan pertama untuk masyarakat yang mengalami musibah kemarin,” ujarnya, Rabu 3 Juli 2013.
Lebih lanjut, Marianto juga mengatakan Gerindra juga telah menyerahkan 100 sak beras dan 200 dus mie instan kepada korban musibah gempa di Bener Meriah. “Kami akan terus mengoptimalkan segala perhatian dan bantuan kepada para korban sebagaimana yang telah diinstruksikan Ketua Gerindra Aceh,” katanya.
Ketua Gerindra Aceh, Ir. H. T. A. Khalid saat dikonfirmasikan ATJEHPOSTcom membenarkan apa yang disebutkan Marianto sebelumnya. Menurutnya, pihaknya langsung mengintruksikan kepada segenap jajaran pengurus, kader, dan relawan partai Gerindra agar dapat mencurahkan segala perhatiannya kepada korban gempa.
Untuk itu, menurutnya, TIDAR (Tunas Indonesia Raya) Aceh, sayap Partai Gerindra, telah membuka posko bantuan untuk para korban gempa bumi Bener Meriah dan Takengon di Jl. T. Nyak Makam (Samping Nacha Café) Banda Aceh.
Bagi para relawan yang ingin menyalurkan bantuannya dapat menghubungi langsung Ketua TIDAR Aceh, Agussalim, dengan nomor
- See more at: http://atjehpost.com/nanggroe_read/2013/07/03/57939/15/5/-Gerindra-serahkan-bantuan-untuk-korban-gempa-tanoh-Gayo#sthash.Ny3hpqoZ.dpuf

Jumat, 24 Mei 2013
LEGENDA PUTRI PUKES
Legenda Puteri Pukes
Pemandangan di seputar danau sangat eksotik dan menarik. Banyak cerita legenda yang mengelilingi keindahan danau ini, seperti legenda beberapa goa. Yang cukup terkenal adalah Legenda Goa Puteri Pukes. Cerita kehadiran goa yang berada di pinggir danau ini cukup menggelitik.
Konon, saat tuah orang tua masih menjadi kenyataan, hiduplah seorang puteri bernama Pukes. Puteri Pukes kemudian dipinang oleh seorang pangeran dari seberang Danau Laut Tawar. Sesuai adat, jika seorang perempuan sudah dipinang dan diperistri, maka ia harus ikut dan tinggal dalam lingkungan keluarga besar suaminya.
Setelah dipinang, Puteri Pukes pun harus meninggalkan kedua orangtua, saudara dan kampung halamannya menuju kampung halaman sang suami. Sebelum sang puteri berangkat, terlebih dahulu ia diberi petuah oleh orangtuanya. Satu pesan yang harus ia ingat dan patuhi adalah, agar sang anak tidak menoleh ke belakang melihat orangtua, saudara ataupun kampung halamannya. Ia harus meneguhkan keyakinan untuk ikut bersama keluarga sang suami.
Meski sedih dengan pesan tersebut, namun sang puteri tetap harus mematuhinya. Saat perjalanan melintas danau menuju negeri sang suami, tiba-tiba sang puteri merasakan rindu yang tak terperi kepada orangtua dan kampung halamannya. Tanpa disengaja, ia pun menoleh ke belakang untuk sekadar melihat. Tuah orang tua pun terjadi. Dalam sekejap, cuaca yang cerah berubah menjadi gelap, dan petir di angkasa sambung menyambung. Badai pun datang. Tiba-tiba, sang puteri berubah wujud menjadi batu.
Kini, di dalam Goa Puteri Pukes yang berada di pinggir jalan, tepat di depan danau, terdapat patung seorang puteri. Konon, sesekali patung tersebut mengeluarkan air mata penyesalan akibat tak mendengar petuah orangtuanya. Objek wisata ini cukup ramai dikunjungi masyarakat sekitar maupun pendatang, terutama di hari libur.
TEMPAT WISATA YANG TER-SELIP
Dataran Tinggi Gayo. Kabupaten Aceh Tengah (Takengon) Nanggroe Aceh Darussalam adalah TEMPAT WISATA YANG TER-SELIP. Agak terdegar aneh memang kalau membaca judul artikel ini. Tapi,, tunggu jangan berfikiran negatif dulu jadi gini nih di kota takengon (Aceh Tengah) yang kotanya ber udara sejuk, juga memiliki danau tawar yang indah nan eksotis. Danau ini adalah kebanggaan masyarakat takengon (Aceh Tengah). Oh... iya.. di kalimat atas ada tulisan dataran tinggi gayo, pasti sobat bertanya gayo itu apa...? jadi begini 90% di takengon masyarakatnya bersuku gayo yang 10% nya bersuku aceh, padang, jawa dan china. Suku Gayo masih dalam ruang lingkup aceh namun perlu sobat ketahui bahwa di aceh memiliki beberapa suku di antaranya gayo, aceh dan melayu.
Danau Takengon yang sejuk ini terletak di sebelah timur Kota Takengon, di dataran tinggi Gayo (1.250 meter di atas permukaan laut) Kecamatan Lut Tawar. Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Danau laut tawar ini adalah danau yang terluas di Propinsi Aceh dengan luas sekitar 5.472 Ha, panjang sekitar 17 km dan lebar 5,5 km.
Sesuai judul danau takengon yang mulai muncul karena danau yang tercinta ini, dulu masih banyak yang belum tau keberadaan nya selain masyarakat takengon. Ini mungkin dulu belum di perkenalkan kepada masyarakat indonesia bahwa danau yang sangat-sangat indah salah satunya berada di kota takengon (Aceh Tengah). Seiring perkembangan jaman, apa lagi di jaman tekhnologi ini kita berkesempatan memperkenalkan wisata daerah terbaik kita masing-masing kepada nasional maupun internasional, danau takengon sudah mulai banyak di kenal orang, baik dari wisatawan dalam negri maupun luar negri.
Mungkin sobat juga pernah melihat danau ini di televisi. Karena kalau tidak salah sih sudah 4 kali masuk dalam daftar program televisi seperti... ‘’catatan si bolang, si unyil, koper dan ransel, etnik runaway’’ dan sekarang sedang berlangsung penggarapan flm layar lebar lho sobat, berjudul JSP (Janji Sang Pemberani) yang mengambil keindahan alamnya. Kita tunggu aja deh di bioskop-bioskop kesayangan anda heehe,,,,
Ayo sobat datang ke danau tawar takengon, karna penginapan juga terhitung banyak ada hotel yang di pinggir danau saya tidak kasi tau namanya apa nanti ada unsur ngiklan lagi, satu hal jika datang ke takengon (Aceh Tengah) sobat sebaiknya membawa jaket yang tebal soalnya seperti apa yang saya bilang kalau di takengon udaranya sejuk nian ‘’apa lagi pas musim hujan haduuuhh,,,,, (sejuk pedeh) artinya dingin sekali’’ jika sobat menuju ke kota takengon (Aceh Tengah) sobat bisa naik bus atau minibus dari arah medan sumatera utara atau pun bisa juga dari arah banda aceh, jika perjalanan dari sumatera utara menuju takengon berkisar 8 atau 9 jam tergantung kelincahan pak sopirnya mengandarai bus atau mini bus hehe,,, nah jika berangkat dari Banda Aceh atau pusatnya Aceh. Hanya ada mini bus l300 waktu yang di tempuh lebih cepat dari pada medan (Sumatera Utara) bekisar 5 atau 6 jam sampai kota takengon.
Perlu di ketahui sobat. Di sekeiling danau takengon aceh tengah juga banyak legenda-legenda jaman dahulu seperti ‘’ loyang koro, putri pukes, puteri ijo’’
Baiklah saya akan mencoba menjelaskan legenda-legenda ini dengan sepengetahuan saya saja ya sobat mulai dari :
loyang koro (goa kerbau)
loyang koro adalah gua kerbau tp bukan berarti saya kerbau sobat, hahaaa,,,, itu nama goa nya, yang mana gua itu menembus daerah desa isaq masih di daerah aceh tengah tapi ber kilo-kilo meter panjang ntu gua sobat, di dalamnya kaga ada listrik, penginapan ama warung makan, klw sobat mau nembus gua itu bawa bekal sebanyak-banyaknya untuk beberapa hari dalam perjalanan,, haahaa maaf Cuma becanda kok sobat, gua itu sekarang sudah tertutup oleh stalakmit atau stalaktif ya,,, ga tau juga saya namanya sekarang gua itu panjang nya hanya beberapa meter saja.
Putri pukes
Kalaw ini dulunya cerita tentang pengantin baru yang menjadi batu, lupa juga saya ceritanya ntar sobat aja yang cari tau sendiri agar lebih abdol,,
Putri ijo (putri hijau)
Nah kalau ini dulunya cerita tentang 2 orang sedarah menikah dan awalnya si wanita ini tidak tau bahwa lelaki yang menikahi dia kakak kandungnya, lalu si wanita ini malu ketika tau suaminya adalah kakak kandungya. Dan wanita itu mengubur dirinya sendiri di pinggir danau tawar, dan konon menjadi ular hijau yg di sebut ‘’puteri ijo’’ yang besar ya seperti naga lah gitu,, ya konon si ceritanya begitu.
Bukan itu aja sobat masih ada wisata lainya ada puncak ‘’pantan terong’’. Dari puncak tersebut kita bisa melihat kota takengon dan hamparan luas danau tawar dan dari ketinggian entah berapa meter lupa saya ukur ntar deh hehee,,,,, dari sisi hiburan masyarakat gayo aceh tengah setiap tahunya pada bulan agustus mengadakan seni budaya ‘’pacuan kuda’’. Pacuan kuda ini berbeda dari pacuan kuda lainya karna yang menunggangi kuda ini anak berumur rata-rata 9-11 tahun dan tanpa memakai helm / pengaman dan hanya memegang tali yang di ikat ke kepala kuda, atau orang gayo menyebutnya (KEKANG). Pakaian penunggang kuda atau disebut ‘’joki’’. Ada yang memakai baju warna merah, kuning, hijau dan putih (ilang , ijo, kuning, poteh). Pokok nya seru deh sobat.
Selain itu dari segi kuliner juga ada sobat, Yaitu ikan kecil khas danau tawar Orang Gayo menyebutnya (Depik Gayo). Dan mengingat sebagian besar masyarakat takengon adalah petani kopi tak lupa pula rasa kopi gayo yang aromanya ''beughh..... manthaaff'' kopi gayo ini termasuk kualitas terbaik di dunia kopi ini juga sering di exspor ke luar negri lho... karena kopi ini tumbuh dengan pupuk alami tanpa pupuk kimia, sehingga aroma kopi lebih terasa. adapun jenis kopi yang ada di takengon adalah kopi arabika dan robusta. Ada juga kopi luwak kopi yang berasal dari pembuangan hasil permentasi di perut luwak atau (Musang). Harga kopi luwak ini cukup mahal si bekisar Rp. 800.000 sampai Rp. 1000.000 per kilo gram yang sudah berbentuk bubuk.
Oke sobat..... demikian sedikit informasi tentang wisata Danau Tawar takengon ( Aceh Tengah), kami menunggu sobat di takengon untuk berwisata. (Ike Gere Seni Selohmi we Kite Munentong Keindahen Takingen) artinya : ‘’ kalau tidak sekarang kapan lagi kita mengunjungi keindahan takengon’’.
Takengon, The Misty City
Alkisah pada zaman dahulu kala, para tetua adat di Negeri Linge didaerah dataran tinggi Gayo sepakat untuk mencari daerah baru yang akan dijadikan lokasi pemukiman baru bagi anak cucu mereka yang sudah berkembang. Setelah mendaki dan menurungi pegunungan berkabut, mereka menemukan sebuah dataran yang luas yang dikelilingi pegunungan. Berita penemuan lokasi baru itu disampaikan ke majelis adat Linge, dan sang tetua berkata “Takah di Tengon”, atau Dilihat dahulu, apakah lokasi itu baik untuk dijadikan permukiman baru. Dan setelah dilakukan “Takah di Tengon”, para Tetua suku Gayo Linge sepakat untuk membuka hunian baru di pinggiran danau tersebut. Dan Desa “Takah di Tengon” ini kemudian berkembang dan dikenal dengan nama kota Takengon.
Saat ini Takengon merupakan ibukota Kabupaten Aceh Tengah yang merupakan kampung halaman bagi masyarakat Gayo. Kota ini juga disebut dengan kota diatas awan karena sering ditutupi kabut tebal dan untuk mengunjungi kota ini, kita harus melewati jejeran pegunungan di dataran tinggi Gayo.
Disamping selalu diselimuti kabut karena lokasinya yang berada di ketinggian 1.200 mdpl, kota ini juga masih menyimpan sejuta legenda disetiap sudut kotanya dan masih merupakan misteri sampai saat ini. Percaya atau tidak, masyarakat Gayo sangat mempercayai hikayat dan legenda-legenda tersebut dan menghormatinya. Danau Laut tawar yang mistis dan penuh misteri, legenda Putri Hijau, Legenda Putri Pukes, asa muasal Danau Gayo yang terbentuk karena perkelahian antara manusia dengan raksasa, dan sebagainya adalah peninggalan kisah-kisah era Aninisme yang maih terjaga sampai saat ini.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah dan misteri tersebut, kearifan local masyarakat Gayo telah membuat banyak pendatang baik luar datang mengais rejeki di kota ini. Dan Takengon bisa dikatakan sebagai kota teramah di seantero Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sehingga tak heran Takengon menjadi ikon pariwisata Aceh. Berbeda dengan sebagian besar kota-kota di Aceh yang lebih ramai di malam hari, aktifitas di Takengon lebih banyak dilakukan di siang hari, sedangkan di malam hari nyaris sepi karena memang udara malam yang sangat dingin dan penduduk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.
Disamping dikenal sebagai penghasil Kopi Gayo yang nyaris diambil patennya oleh Amerika, Takengon juga memilii hasil alam yang khas dan unik, seperti Nenas takengon yang rasanya sangat manis seperti madu, ikan Depik khas danau laut tawar, Takengon juga terkenal akan kuda yang menjadi tradisi masyarakat lokal dan menjadi simbol status sosial masyarakatnya. Setiap tahun diadakan lomba pacuan kuda yang dihadiri oleh masyarakat Gayo yang tersebar di beberapa kabupaten di dataran tinggi Gayo, Aceh.
Akan tetapi konflikhorizontal dan masalah keamanan telah menenggelamkan kota ini kembali kedalam kabut dan misterinya. Takengon hamper jarang disebut-sebut dalam peta pariwisata Indonesia. Bahkan tak banyak yang tahu bahwa kota ini menyimpan sejuta pesona keindahan, kuliner, keunikan, budaya dan keramah tamahan khas Gayo yang begitu menawan.
Ketika keamanan dan konflik bersaudara di Aceh telah reda, Takengon mencoba bangun dari tidurnya, dan geliat pembangunan telah membuat Takengon semakin cantik ditengah kabut yang selalu setia menemaninya. Senyum para bujang dan gadis Gayo yang terkenal akan pesonanya, siap menyambut para penikmat alam dan keaslian budaya lokal yang luhur. Selamat datang di Takengon, The Misty City (Bot Sosani, 17 November 2011)
KISAH TANAH GAYO DAN DANAU LUT TAWARNYA
Di tanah Gayo yang bertuah terhampar Laut Tawar dikitari gunung Taris, Birah Panyang, Kelieten dan Kelitu yang membujur sampai ke Singah mata. Beberapa sungai mengalir dari beberapa arah menuju Laut Tawar yang bermuara ke sungai Pesangan menuju Samudera Hindia. Orang Gayo cukup menyebutnya dengan “Lôt Tawar” dan bukan Danau Laut Tawar. Di sini -di Laut Tawar- sebagian orang Gayo menyandarkan hidup dari hasil ikan Depik yang uniq itu. Sampai tahun 70-an, ikan Depik bisa dihasilkan berkunca-kunca, sehingga mamu menyara yang bisa nyekolah anak-anak.
Di pinggiran Lot Tawar terdapat pinus yang merentang hijau, yang suatu ketika dulu getahnya di-export. Ada Kopi dan Tembakau yang mutunya mampu menyaingi kopi Berazil di pasaran dunia Internasional. Gambaran tentang keindahan, kekayaan, kebanggaan, harapan dan masa depan orang Gayo, bisa disimak dari lirik Didong berikut. //Engonko so tanoh Gayo/ Si megah mureta delé /urom batang ni Uyem si ijo/Kopi bakoe/ Enti datenko Burni Kelieten mongot pudederu/ /Oyale rahmat ni Tuhen kin ko bèwènmu// (Tataplah tanah Gayo/ yang megah kaya-raya/ dengan pohon Pinus yang hijau/ Kopi dan Tembakaunya/ jangan biarkan Gunung Klieten menangis tersedu/ Inilah rahmat Tuhan kepada kalian semua// (“Sedenge”. Mariam Kobat).
Laut Tawar memang menyimpan sejuta riwayat, seperti: hikayat Malim Dewa (kisah percintaan Malim Dewa dengan Peteri Bensu yang sangat romantis dengan tidak merobek nilai-nilai adat dan agama); Inen/Aman Mayak Pukes (kisah pengantin baru yang tidak patuh kepada nasihat orangtua, dengan kultur Gayo klasik, dimana pasangan suami/Isteri, masih malu bergandeng tangan). Lihat saja posisi antara Inen dan Aman Mayak Pukes (penganting perempuan dan lelaki) yang jaraknya diperkirakan 200 meter dan Peteri Ijo (hikayat gadis cantik jelita berabut panjang, yang sarat dengn kekuatan misteri). Di sini- di Laut Tawar- kaula muda merajut percintaan yang romantis.
Muse (penyair Gayo) bercerita: //Kirep cèngkèh ni bulang/ kipes ni opoh Padang/ terbayang ko laut ijo rembebe tajuk ni bunge/ ku sèmpol bun kin tene/ mudemu i ôjông Baro// (Panggilan dengan topi miring/ lambaian kain panjang/ terbayang kau Laut hijau/ kuntun bunga bertaburan/ berjumpa di ôjông Baro/ diselip di sanggul sebagai isarat.) Kasih-sayang yang mereka rènda sepanjang jalan kenangan ini tak rela membiarkan terbang ke angkasa lepas. Tak kuasa untuk berpisah, sedetik sekalipun. Miga (penyair muda Gayo) berdèndang: //Tapè ikot ari Pedemun (Bingkisan dari Pedemun) /Ku Balé Atu malè kukirimen (kukirim ke Balé Atu)/ Mokottu lime tun (lima tahun terlalu lama)/ Nantin aku di Terminal Takengon (tunggu aku di Terminal takèngon, sayang).
Di sini -di Laut Tawar- orang menjalin rasa persadaraan yang kental. Biar susah sungguh, sampan tetap kukayuh meredah Laut Tawar menuju Bebuli. Disana sanak saudaraku sudah letih menanti. Demi persaudaraan, enggan menghitung langkah dan ayunan dayung Keakraban persaudaraan ini, bisa disimak dari lirik: //Langkah ku mamang ku Ujung Bebuli (Langkahku terburu-buru ke Ujung Bebuli)/ Jarak sipi-sipi telas Kampung Rawè (Nampak samar-samar Kampung Rawè)/ Muah ke Rembèlè, kati singah kami (Berbuahkah Rembèlè agar mampir kami// (Rembele, sejenis kayu yang buahnya berisi lendir dengan rasa manis) (Ramlah, penyair Gayo)
Di sebalik kisah itu, ada sejuta kegundahan yang satu saat akan melilit dan mencekik kebanggaan terhadap Laut Tawar. Sebab dalam realitasnya, hutan Gayo sudah dikuasai oleh orang asing. Utente negemèh bertene dan belangte nge mèh berpancang (Hutan dan padang ilalang kita sudah habis dipancang – Linge group.) Hak Paten Kopi Gayo pun di tangan Belanda. Kawasan hutan di hulu sungai utama, seperti: Kenawat, Toweran, Rawè, Nosar, Bèwang, Mengaya, Bintang dan Totor Uyet menuju Kala Kebayakan- yang bermuara air ke Laut Tawar kini sudah gundul.
Konsekuensinya permukaan air Laut Tawar semakin dangkal. Hal ini tidak saja berpengaruh kepada kerusakan alam lingkungan, tetapi juga keengganan Ikan Depik masuk Di disen. Kini, ikan Depik lebih suka bertandang ke tengah laut ketimbang melewati Penyangkulen (post-post laluan Ikan Depik). Para nelayan pun mengejar dan memberkasnya dengan doran (pukat tradisional Gayo). Kabri Wali (penyair muda Gayo) mengisahkan: //Nge taring peberguk parukni penyangkulen/ Gere lagu jemen Didisen batu berbata// Pinus yang terhampar luas dan megah, kini hampir semua musnah. Ibnu Hajar (penyair Gayo) melukiskan //Ari Lampahan sawah ku Gelampang (dari Lampahan hingga Gelampang)/ Nge mèh lapang taring kemumu (Sudah gundul tinggal rerumputan)/ Pabrik Lampahan gere nèh mugune (Pabrik lampahan tidak lagi berfungsi) Mujadi besi tue kengon tubuhmu (sudah jadi besi tua)/ Gere megah lagu sedenge (tidak terkenal seperti dahulu)//
Lupakan seketika kisah itu. Yang pasti, wajah Laut Tawar setara indah dan cantiknya dengan Geneva Lake Swissland, yang dilingkari oleh gunung Alps dan Jura, bermuara ke sungai Rhône yang mengalir gemuruh dan bening. Selain Rhône, ada Pea -sungai kecil- yang diapit oleh pohon rindang (mirip kayu bakau) yang terurus. Air Geneva Lake yang jernih bersumber dari mata air simpanan salju gunung Alps dan Jura. Kecantikan dan keindahan Geneva Lake tetap bertahan, karena pemerintah setempat merupakan Wali yang bertanggungjawab melindungi dan menjaga martabat Geneva sebagai kota turist berskala internasional.
Sepanjang sungai Rhône membujur taman bunga beraneka warna yang diperindah dengan cahaya lampu penghias di waktu malam, semakin mempesona para wisata. Siapapun yang pernah berjalan sepanjang Rhone, akan berhayal; “Seandainya pantai Laut Tawar dari arah Mendalé hingga Bôm dan dari arah Dedalu menuju sungai Pesangan ditata dengan seni arsitektur yang berciri Gayo secara profesional -artinya, tidak ada lagi gubuk nelayan, yang mirip gubuk suku Dayak terasing Kalimantan Timur itu- dan menukarnya dengan taman bunga.” Mungkin khayalan tadi akan menjelma dan Peteri Bensu bersaudara turun dari singgasana menyambut Malim Dewa (baca: wisatawan) seraya menyapa: “Inilah daku, Gayo!”
Tidak guna lagi meratapi Laut Tawar dalam syair, sementara tangan kita mengotorinya; memuja dalam sastera, sementara mendera di alam nyata. Jangan biarkan keindahan Laut Tawar terbengkalai. Sisir rambut Pantai Menye (manja) agar tak kusut, mandikan dengan aroma bunga Renggali agar kaki turist tidak tersentuh tahi. Jangan biarkan Inen Mayak Pukes kesepian dan kesejukan dalam kawah gelap gulita. Berilah dia cahaya kehidupan! Pemda Aceh Tengah dan Bener Meriah adalah Wali yang bertanggungjawab melindungi dan menjaga martabat Laut Tawar dan Takengon sebagai kota turist bertarap internasonal. Ironis memang. Terlepas dari ada orang yang mencemari, mengotori dan mengacuhkannya. Tokh Laut Tawar masih tetap berdiri tegar, masih ramah menyapa, membagi sejuk, menawarkan senyum, pasrah dan ikhlas memberi apa saja yang dimilikinya. Sesekali ia bangkit bersaksi -protes- lewat Belambidé-nya, yang justeru menelan korban, sosok yang tidak pernah menyusahkan dan menyakitinya
Kamis, 23 Mei 2013
SUKU GAYO LUES
Suku Gayo Lues
tari Saman
kesenian suku Gayo Lues
Suku Gayo Lues, adalah sub-suku Gayo yang berdiam di kabupaten Gayo Lues dan beberapa kecamatan di Aceh Tenggara, juga sebagian kecil terdapat di Aceh Selatan provinsi Aceh.
Pemukiman suku Gayo Lues ini yang berada di kabupaten Gayo Lues, berada di gugusan pegunungan Bukit Barisan, sebagian besar wilayahnya merupakan area Taman Nasional Gunung Leuser yang terisolasi di provinsi Aceh.
Kebudayaan dan adat-istiadat sub-suku Gayo Lues, hampir tidak ada perbedaan dengan sub-suku Gayo lainnya, seperti Gayo Serbejadi (Lukup), Gayo Kalul, Gayo Lut dan Gayo Deret. Hanya saja dibedakan dari dialek yang digunakan, mereka memiliki dialek yang berbeda dengan sub-bahasa Gayo lainnya.
Walaupun memiliki dialek yang berbeda dengan kelompok Gayo lainnya, tapi mereka bukanlah suku yang berbeda dengan suku Gayo lainnya, mereka tetaplah suku Gayo. Mungkin karena wilayah mereka yang berbeda dan terpisah dengan etnis Gayo lainnya, serta dialek yang mereka ucapkan sedikit berbeda, oleh karena itu mereka disebut sebagai Gayo Lues.
Masyarakat suku Gayo Lues, mayoritas memeluk agama Islam, yang pada masa dahulu dibawa oleh orang Aceh dan orang Minangkabau yang keturunannnya juga banyak bermukim di wilayah ini. Mereka adalah penganut Islam yang taat, sehingga beberapa kebudayaan mereka banyak mengandung unsur Islami.
Suku Gayo Lues walaupun hidup di pegunungan yang termasuk daerah terisolasi, tetapi mereka menerima kehadiran pendatang dengan tangan terbuka. Mereka memiliki sikap yang ramah terhadap siapapun, sehingga wilayah Gayo Lues saat ini telah banyak dimasuki pendatang dari berbagai wilayah dari daerah Sumatra, dan dapat hidup berdampingan secara damai.
Kehidupan masyarakat suku Gayo Lues, pada umumnya hidup pada bidang pertanian, seperti bercocok tanam sayur-sayuran, cabe merah, serai wangi, kakao, tembakau dan kopi arabica.
Langganan:
Komentar (Atom)